Saturday, April 24, 2010, 16:12 - NEWS / BERITA
Laporan Berita 100 hari Gus Dur : Merajut Merah Putih
Minggu, 18 April 2010 di Seminari Menengah Santo Pentrus Kanisius Mertoyudan Magelang diselenggarakan doa dan sarasehan bersama untuk mengenang 100 hari meninggalnya Gus Dus. Doa dan sarasehan ini sebagai kelanjutan dari peringatan 40 hari Gus Dur yang diselenggarakan di Klenteng Muntilan pada bulan Februari yang lalu. Merajut merah putih menjadi tema pokok sarasehan. Pembicara yang hadir antara lain; Rm. Muji Sutrisno SJ, Bikhu Sri Pannavaro Mahatera dari Vihara Mendut, KH. Abdul Muhaimin dari Yogyakarta, dan KH. M. Yusuf Chudhlori pengasuh ponpes Tegal rejo Magelang. Bpk Sutanto dari Mendut sebagai moderator.
Rm Muji menekankan bahwa kita sesama orang jawa yang menginduk pada agama bumi maka sudah selayaknya sesame orang Jawa saling menghormati. Bikhu mensharingkan pengalamannya berdialog dengan Gus Dur. Gus Dur sangat menghormati kepercayaan orang beriman dalam suatu kelompok sekecil apa pun. Tidak perlu disertai dengan dokumen dan referensi yang berat-berat tapi cukup dengan niat baik untuk beriman kepada Tuhan. Bikhu menekankan ketulusan hati menerima orang lain bukan dengan paradigm paham tertentu tetapi menghormati sesama manusia ciptaan Tuhan. KH. Abdul Muhaimin setelah sekian lama bergabung dalam FPUB Yogyakarta mensharingkan persabahatannya dengan umat beriman. Rumahnya menjadi tempat terbuka bagi siapa pun.
Karena kecintaannya pada Gus Dur sebagai bapak pluralisme, meskipun diguyur hujan deras umat lintas agama dan kepercayaan tetap datang. Tamu yang datang sekitar 900 orang. Mereka rela duduk di dalam aula, ruang rekreasi, dan gang-gang sekitar. Umat pun setia mengikuti acara dari awal sampai akhir. Nasi angkringan mampu menghangatkan suasana. Nyala lilin kebangsaan menjadi terang hati nurani untuk semakin menerima keunikan masing-masing. Saat bendera merah Putih dibentangkan, mengingatkan perjuangan para pahlawan bangsa kita. Tumbuhlah semangat nasionalis. Tahlilan menyatukan umat sebagai citra manusia yang diridohi Allah. Canista Orcresta seminarium ( Canista ) pun menyemarakan suasana. Lagu kebangsaan dikumandangkan. Semua umat menyanyi dengan suka cita dan bangga sebagai warga Negara Republik Indonesia yang menjunjung pancasila dan UUD 1945. Lagu Ayo Rukun karangan Bpk. D Martomo dinyanyikan dengan semarak oleh paduan suara lintas agama sekitar Mertoyudan. Lagu itu menjadi ajakan bagi seluruh umat memperjuangkan kerukunan hidup beragama dan bermasyarakat. Jabat tangan hangat penuh persaudaraan diiringi lagu salam damai dengan 4 versi bahasa menjadi penutup serangkai doa dan sarasehan.
Salam Pluralisme bangsaku
Rm. A. Saptana Hadi
Pamong
|
|