Thursday, August 6, 2009, 16:39 - SISWA Posted by hadi
Pada tanggal 24-26 Juli 2009 yang lalu, wakil siswa dari SMA Seminari Mertoyudan ikut serta dalam Jambore Lingkungan Hidup yang diadakan di lapangan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Jambore ini diselenggararkan oleh tim Interfidei bekerjasama dengan SAV Puskat, Yogyakarta. Jambore yang berlangsung selama 3 hari itu diikuti oleh para pelajar dari berbagai sekolah yang berbeda latarbelakang agamanya. Ada lima sekolah yang mengirimkan wakilnya, yaitu SMA Seminari Mertoyudan, SMA Michael Yogyakarta, MAN Maguwoharjo, MAN Lab Yogyakarta, dan SMA Piri I. Tak ketinggalan, para pelajar Buddhis yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Buddhis Kulon Progo (IPBKP) juga turut memeriahkan acara ini.Acara ini diawali dengan sambutan dari ketua panitia. Dalam sambutannya, Ketua panitia mengungkapkan bahwa perubahan bisa dimulai dari diri sendiri dan perbedaan bisa jadi modal untuk melakukan perbuatan baik. Acara dilanjutkan dengan perkenalan, presentasi yel per kelompok, lalu menonton film dokumenter mengenai pembentukan bumi dan ulah-ulah manusia yang dapat merusak bumi yang diciptakan Tuhan dalam keadaan yang baik adanya itu. Pada malam hari diadakan presentasi Wacana Muda untuk Lingkungan Hidup. SMA Seminari Mertoyudan berhasil menggondol gelar juara presentator terbaik pilihan penonton. Dalam presentasinya, tim dari Seminari mengajak semua peserta untuk menata ulang mindset yang ada dalam pikiran dengan mengubah slogan “Buang Sampah” menjadi “Taruh Sampah”. Tim Seminari yang mengambil slogan yang pernah ada di Jakarta, berhasil mengajak semua peserta Jambore untuk menggunakan slogan ini. Hal ini terbukti dengan beberapa kali dimunculkannya slogan tersebut selama Jambore berlangsung.
Pada keesokan harinya diadakan “Presentasi Khasanah Ajaran Agama tentang Membangun Sikap Hidup Ramah Lingkungan”. Semua agama setuju bahwa lingkungan harus dijaga dan dilestarikan. Presentasi berjalan dengan lancar. Semua peserta nampak begitu terbuka dan toleran terhadap wawasan baru yang mereka dapatkan. Setelah presentasi berakhir, acara dilanjutkan dengan dialog antar agama dengan format tanya jawab. Dalam sesi ini dibuka pertanyaan bagi siapa saja dan kepada agama mana saja. Acara ini menyita perhatian semua peserta. Banyak pertanyaan yang muncul, termasuk perihal FPI dan Trinitas. Tak ada suasana tegang dalam dialog kali ini. Semua membaur dalam suka ria.
Pada malam hari, diadakan diskusi berkenaan dengan tindakan merusak lingkungan dan usaha-usaha penyelamatan lingkungan. Pada kesempatan ini, para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan para peserta dari berbagai sekolah. Meskipun baru satu hari bersama, semua nampak tak malu-malu saat berdiskusi. Alhasil, hasil diskusi yang ciamik, yang telah dipersiapkan kelompok sejak siang hari pun dapat dipresentasikan dengan mengesankan.
Seusai berdiskusi, acara dilanjutkan dengan pentas seni dari masing-masing sekolah. Semua sekolah menampilkan apa yang telah mereka persiapkan dengan baik. Kembali lagi, semua luluh dalam suka ria. Para peserta berjingkrak-jingkrak dengan penuh semangat, berputar-putar di sekitar api unggun sambil bernyanyi. Tak ada lagi batasan agama di sana. Hebatnya lagi, semua peserta nampak mendukung penampilan dari kelompok lain, dengan ikut bernyanyi atau menuruti apa yang dikatakan oleh kelompok penampil. Seusai acara, banyak peserta yang menghabiskan malam terakhir Jambore dengan begadang. Pengalaman bersama selama dua hari membuat para peserta tak mau melewatkan malam terakhir mereka bersama dengan begitu saja.
Di hari terakhir, para peserta kembali dibagi ke dalam tiga kelompok. Kali ini, masing-masing kelompok mempunyai kegiatan yang berbeda satu sama lain. Kelompok pertama mengikuti demonstrasi pembuatan kompos. Kelompok kedua mengikuti kegiatan menanam dan memelihara tanaman. Sementara itu, kelompok ketiga mengikuti pengorganisasian sosial untuk gerakan pro-lingkungan. Ilmu yang didapatkan para peserta diharapkan dapat diimplementasikan ke dalam hidup keseharian mereka seusai mengikuti jambore lingkungan hidup ini.
Acara terakhir dalam jambore lingkungan hidup ini adalah rencana tindak lanjut yang akan dilakukan oleh masing-masing sekolah. Banyak rencana brilian yang diungkapkan, seperti penghijauan di lingkungan sekolah, membuat group member di Facebook guna menjaga kerukunan yang telah tercipta, mensosialisasikan slogan “Taruh Sampah”, dan masih banyak lagi rencana tindak lanjut yang lain. Di akhir acara presentasi ini juga diumumkan pemenang dari beberapa kategori. IPBKP meraih gelar peserta termuda, MAN Maguwo meraih gelar tenda terbersih, SMA Michael sebagai kelompok paling bersemangat, dan SMA Seminari menyabet gelar yel terbaik. Adapun penghargaan peserta terpopuler diraih oleh Galih dari SMA Michael dan Wahyu dari SMA Piri I. Kemiripan di antara keduanya menjadi keunikan tersendiri dalam Jambore kali ini, sehingga mereka dianggap pantas mendapatkan gelar ini. Selain itu, keduanya juga terlibat aktif selama kegiatan jambore berlangsung.
“Indah, seperti pelangi. Di sini kami seperti warna-warna dalam pelangi yang saling berdampingan dan bersinergi”, begitu kesan salah satu peserta Jambore bernama Risky, dari SMA Seminari. “Kegiatan seperti ini harus lebih sering diadakan, karena dengan kegiatan ini kita dapat berdialog dengan saudara-saudara kita yang agamanya berbeda dengan kita”, begitu pesan yang disampaikan oleh Dion dalam kesempatan yang berbeda.
Ignatius Noventa Sanjaya
SMA Seminari Mertoyudan
|
Wednesday, November 26, 2008, 13:36 - SISWA Posted by hadi
Pada tanggal 14 Oktober 2008, Seminari Mertoyudan mendapat undangan dari Dinas Pendidikan untuk mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Balai Konservasi Peninggalan Candi Borobudur (BKPB), Magelang. Acara tersebut bertemakan Meniti Jejak Peradaban Candi-Candi Peninggalan Mataram Kuno. Pihak sekolah mengirim dua siswa dan seorang guru. Dari kelas XI dipilih Fikalis Rendy (XI IPS), kelas X dipilih Christoporus Yudha (XC), dan didampingi oleh Bpk. Wahab Cahyono.Acara tersebut berlangsung selama dua hari yaitu pada hari Sabtu, 18 Oktober dan Minggu, 19 Oktober 2008. Berikut ini laporan singkatnya.Tepat pagi hari pada pukul 07.30 WIB kami tiba di kantor BPKB setelah diantarkan dengan mobil oleh Pak Darmono, sopir Seminari. Suasana masih sepi tetapi sudah ada beberapa siswa yang sudah hadir, yaitu dari SMA Candimulya dan SMAN I Ngluwar. Pada pukul 08.00 WIB sudah banyak siswa yang hadir dan melakukan registrasi. Dalam registrasi kami diberi perlengakapan mengunjungi candi dan juga souvenir dari BKPB. Adapun peserta yang ikut sebanyak 50 orang, terdiri dari siswa dan guru. Selanjutnya acara meniti jejak peradaban candi dibuka secara sederhana oleh Dinas Pendidikan dan Panitia. Ceramah dari Dr. Sumijati Atmosudiro tentang peninggalan menjadi pemanasan dan penambahan wawasan. Acara hari pertama diisi dengan perjalanan ke Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen.
Berikut ini beberapa informasi penting dari candi-candi yang kami kunjungi, antara lain:
1. Candi Borobudur
Kami sudah berkunjung ke Borobudur beberapa kali. Namun, berbeda dengan yang kami lakukan pada hari ini. Borobudur sungguh-sungguh merupakan simbol kebangkitan (awakening). Perjalanan pencerahan umat manusia yang digambarkan melalui kisah perjalanan pemuda yang bernama Sudhana. Kisahnya berakhir pada fragmen Bhadracari dimana Sumantabhadra memberi wejangan pada Sudhana. Proses penyempurnaan mencapai pencerahan tertinggi tentang kebenaran sejati (Paramita) diwujudkan dalam relief Lalistavistara, awadana, dan Jataka.
Dari hal itu, sangatlah sayang apabila kita hanya sekedar berkunjung saja tanpa membawa apa-apa yang bermakna. Dari sisi lain, fakta restorasi Borobudur yaitu:
a.Ditemukan pertama kali oleh Raffles pada tahun 1812 dalam kondisi penuh parah tertutup semak belukar.
b.Dilakukan pembersihan di bawah Cornelius pada tahun 1814 dengan 200 pekerja selama 2 bulan.
c.Tahun 1834, Residen Kedu ikut ambil bagian dalam pembersihan.
d.Tahun 1907-1911, Theodore Van Erp melakukan restorasi.
e.UNESCO (1973-1983) dan pemerintah Indonesia melakukan restorasi besar-besaran sehingga dapat bertahan lebih dari 1000 tahun.
Candi Borobudur dibagi menjadi tiga tingakatan yaitu Kamadhatu (bawah), Rupadhatu (tengah), dan Arupadhatu (atas).
2. Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen
Sebenarnya ketiga candi ini ditambah dengan Borobudur membentuk sebuah Mandala (lingkaran) yang mengitari Magelang, Jawa Tengah. Candi Pawon, Mendut, dan Ngawen merupakan candi yang bercorak Budha. Candi Pawon termasuk salah saru candi Budha yang bentuknya ramping seperi candi Hindu. Candi Pawon juga sering di sebut sebagai Upa Angga (bagian dari candi Borobudur). Di masa lampau, candi Pawon merupakan tempat untuk penyimpanan abu sisa pembakaran jenasah Raja Indra. Letaknya cukup strategis karena berada di tengah-tengah persimpangan antara Candi Mendut dan Candi Borobudur. Candi Pawon sendiri cukup sering dikunjungi oleh wisatawan asing maupun domestik.
Candi Mendut berada di desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Magelang. Candi Mendut letaknya menghadap ke barat sama dengan candi Pawon. Namun misteri itu belum dipecahkan sampai sekarang (mengapa sebuah candi selalu mengahadap ke barat?). Dalam ruangan atau ilik candi Mendut, kita bisa melihat dua arca yaitu arca Buddha Gkyamuni, arca Bodhisattwa Vajrapani, dan arca Bodhisattva Avalokitesvara.
Sementara itu di dusun Ngawen Muntilan terdapat Candi Ngawen. Candi Ngawen diapit oleh dua buah sungai yaitu kali Kebo (barat) dan Sungai Pabelan (timur). Lokasinya sendiri yaitu ada gugusan 5 buah candi yang masing-masing berbentuk bujur sangkar dari I V.
Identifikasi kedua arca yang ada di candi Ngawen II dan IV adalah sebagai arca Pantheon Tathagata (=pan: seluruh dan theos: dewa).
3. Candi Prambanan
Candi ketiga ini kami kunjungi di hari terakhir perjalanan kami. Masing-masing candi cukup berbeda dengan bentuk candi yang kami kunjungi sebelumnya. Candi Prambanan terlihat besar menjangkar ke atas dengan puncak yang tinggi. Ada tiga bangunan candi yang penting di kompleks candi Prambanan yaitu candi Siva (Roro Jonggrang), candi Brahma, dan candi Wisnu. Sejak tragedi gempa jogja, 27 Mei 2006, ketiga candi penting itu justru tidak boleh dimasuki karena masih dianggap tidak aman bangunannya. Selain ketiga candi itu, ada pula candi Nandi, Andsa, dll. Candi-candi di kompleks candi Prambanan merupakan candi Hindhu terbesar di Pulau Jawa.
Perbaikan candi Prambanan tetap dilanjutkan terus menerus. Ketika kami berkunjung, ada dua candi yang sedang dalam perbaikan dan itu merupakan bukti bahwa candi Prambanan masih tetap diperhatikan.
Sementara itu di dekat candi Prambanan, berdiri tegak Candi Sewu. Candi Sewu terletak di dukuh Bener, Bugisan, Kecamatan Prambanan.
Candi Sewu termasuk candi yang berlatar belakang agama Bundha. Kompleksnya cukup luas dan di sekitar situlah kami beristirahat sejenak sambil menikmati indahnya panorama pegunungan.
Candi Plaosan merupakan candi terakhir yang kami kunjungi. Candi Plaosan itu terletak di desa Plaosan, Yogyakarta. Candi Plaosan merupakan hasil akulturasi dari candi Hindu dan candi Budha. Bangunan yang di sekitar itu cukup besar dan banyak yang terpisah. Dan di situ pula hujan deras turun sehingga perjalanan kami hanya sedikit menelusuri candi Plaosan.
Nah, setelah berkeliling-keliling dan meniti jejak peradaban candi-candi peninggalan Mataram kuno, kami mengakhiri acara tersebut dengan penutupan di BKPB. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.
Oleh: Fikalis Rendy A. dan Christoporus Yudha


|
Thursday, October 2, 2008, 14:07 - SISWA Posted by hadi
Dalam kehidupan bersama di asrama, khususnya di Seminari Mertoyudan, pemberian nama paraban sepertinya telah membudaya. Sebagian besar siswa punya nama paraban. Nama paraban itu diberikan oleh anggota komunitas terhadap seseorang. Sikap orang terhadap nama paraban itu berbeda-beda. Ada yang menerimanya dengan senang hati, ada yang terpaksa menerimanya karena merasa tidak berdaya untuk menolaknya. Adanya nama paraban ini senyatanya menimbulkan pro kontra. Karena di satu sisi, nama paraban itu menjadi ungkapan keakraban dan mampu menumbuhkan keakraban dalam hidup bersama. Tapi di sisi lain, nama paraban yang tidak dikehendaki oleh yang bersangkutan, bisa menjadi bentuk pembunuhan karakter. Mengingat pemberian nama paraban telah menjadi trend di Seminari, pada sidang Akademi pada tgl. 8 September 2008, Kelompok Sidang Akademi St. Albertus Agung Gol. A menggelar debat sistem Parlemen Australia dengan tema : Paraban di mata Seminaris. Debat berlangsung sangat seru. Masing-masing kelompok, Tim Afirmatif dan Tim Negatif, saling beradu argumen untuk memenangkan pendapatnya. Dalam laporan berikut disampaikan beberapa buah pikiran yang sempat muncul dalam perdebatan tersebut.
Keakraban dan kebersaman
Atas dasar kebersamaan yang tinggi dan pengenalan tiap individu secara lebih konkret, sejumlah nama-nama baru, yang lebih populer disebut nama paraban, bermunculan di komunitas. Dalam hal ini, ada sejumlah warga komunitas yang mendukung dan ada pula yang menolak keberadaan nama paraban dalam komunitas. Alasan yang sangat sederhana yaitu demi mewujudkan kearaban dalam kelompok. Sejumlah pihak yang mendukung mengatakan bahwa keakraban semakin terjalin salah satunya melalui nama paraban. Nama-nama yang diberikan pada tiap individu amat beragam dan cukup unik, entah karena perilakunya yang kerap kali berbeda dengan kawannya yang lain, entah karena bentuk fisiknya, asalnya, hingga nama orang tua.
Selain untuk menjalin keakraban, nama paraban dinilai mampu memperkuat eksistensi seseorang di dalam komunitasnya. Nama-nama ini digunakan dalam pergaulan sehari hari, dengan tidak menutup kemungkinan adanya pemanggilan nama paraban di dalam forum resmi secara tidak sengaja. Nama yang berawal dari sapaan ringan dan kecil dalam kehidupan bersama, menjadi sebuah kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Kebiasaan memanggil dengan nama paraban itu tidak berhenti ketika di Seminari Mertoyudan, tapi berlanjut ketika strudi di Filsafat dan Teologi, bahkan setelah menjadi Romo. Celakanya, karena terlalu biasa dipanggil dengan nama paraban terkadang nama resminya sendiri sering tidak dikenal/terlupan.
Penghambat pembentukan karakter
Tetapi, yang perlu kita cermati bersama adalah bagaimana kondisi kejiwaan atau mental seseorang yang diberi nama julukan (paraban). Terlebih nama yang menyangkut kelemahan yang ada pada dirinya cenderung memojokkan dan menyudutkan dia. Perasaan sakit hati, merasa tidak dihargai atau direndahkan oleh orang lain, merupakan sejumlah akumulasi akibat yang ditimbulkan dengan adanya nama paraban ini. Perendahan yang dimaksud adalah kurang atau bahkan tidak adanya sikap saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lain. Hal ini terungkap dalam pemanggilan nama seseorang dengan tidak semestinya. Pemberian nama paraban ini tidaklah mengganti nama yang sebenarnya; tetapi sadar atau tidak, pemberian nama paraban seakan menutup nama yang sesungguhnya.
Pemberian nama paraban seperti itu bisa membuat mental seseorang menjadi down. Lebih tragis lagi, bisa menghambat bahkan membunuh karakter seseorang. Masalahnya, bagaimana dirinya bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik apabila ia mengalami luka batin yang cukup mendalam di komunitasnya. Komunitas yang diharapkan menjadi tempat bernaung yang menyejukkan, menjadi komunitas penghancur. Secara tidak langsung, akibat yang ditimbulkan ini dapat berpengaruh pada terhambatnya proses pembentukan karakter seseorang.
Problem paradoksal dan rasa penghargaan
Nama paraban sebenarnya merupakan problem cukup paradoksal dalam sebuah komunitas. Di satu sisi, penggunaan nama paraban makin mendekatkan, mengakrabkan dan mendobrak eksistensi seseorang di dalam komunitas; tetapi di lain pihak penggunaan nama paraban mampu merendahkan atau bahkan menjatuhkan mental seseorang yang akan berujung pada terhambatnya proses pembentukan karakter dalam diri seseorang. Selain itu, nama paraban yang ada mampu menunjukkan citra sebuah komunitas, citra yang terbangun melalui kehidupan komunitas sehari-hari.
Penyebutan nama paraban ini sebenarnya bukanlah perkara yang amat luar biasa melainkan hal kecil dan sederhana namun mampu menjatuhkan seseorang secara perlahan. Kesadaran untuk meninggalkan budaya ini terbentuk ketika setiap warga komunitas memiliki kemauan untuk saling menghargai. Memanggil nama orang sebagaimana mestinya, merupakan salah satu bentuk nyata tanda penghargaan terhadap orang lain.
Mertoyudan, 27 September 2008
Benedictus Seprinanda Sudarto
|