Seminari Menengah St Petrus Canisius Mertoyudan Trimakasih atas kunjungan di website ini. Semoga bisa memberikan informasi yang berguna.
   
Nama Paraban. Tanda keakraban VS Pembunuh Karakter  
Thursday, October 2, 2008, 14:07 - SISWA Posted by hadi
Dalam kehidupan bersama di asrama, khususnya di Seminari Mertoyudan, pemberian nama paraban sepertinya telah membudaya. Sebagian besar siswa punya nama paraban. Nama paraban itu diberikan oleh anggota komunitas terhadap seseorang. Sikap orang terhadap nama paraban itu berbeda-beda. Ada yang menerimanya dengan senang hati, ada yang terpaksa menerimanya karena merasa tidak berdaya untuk menolaknya. Adanya nama paraban ini senyatanya menimbulkan pro kontra. Karena di satu sisi, nama paraban itu menjadi ungkapan keakraban dan mampu menumbuhkan keakraban dalam hidup bersama. Tapi di sisi lain, nama paraban yang tidak dikehendaki oleh yang bersangkutan, bisa menjadi bentuk “pembunuhan karakter”.

Mengingat pemberian nama paraban telah menjadi “trend” di Seminari, pada sidang Akademi pada tgl. 8 September 2008, Kelompok Sidang Akademi St. Albertus Agung Gol. A menggelar debat sistem Parlemen Australia dengan tema : ” Paraban di mata Seminaris”. Debat berlangsung sangat seru. Masing-masing kelompok, Tim Afirmatif dan Tim Negatif, saling beradu argumen untuk memenangkan pendapatnya. Dalam laporan berikut disampaikan beberapa buah pikiran yang sempat muncul dalam perdebatan tersebut.

Keakraban dan kebersaman

Atas dasar kebersamaan yang tinggi dan pengenalan tiap individu secara lebih konkret, sejumlah nama-nama baru, yang lebih populer disebut nama paraban, bermunculan di komunitas. Dalam hal ini, ada sejumlah warga komunitas yang mendukung dan ada pula yang menolak keberadaan nama paraban dalam komunitas. Alasan yang sangat sederhana yaitu demi mewujudkan kearaban dalam kelompok. Sejumlah pihak yang mendukung mengatakan bahwa keakraban semakin terjalin salah satunya melalui nama paraban. Nama-nama yang diberikan pada tiap individu amat beragam dan cukup unik, entah karena perilakunya yang kerap kali berbeda dengan kawannya yang lain, entah karena bentuk fisiknya, asalnya, hingga nama orang tua.

Selain untuk menjalin keakraban, nama paraban dinilai mampu memperkuat eksistensi seseorang di dalam komunitasnya. Nama-nama ini digunakan dalam pergaulan sehari hari, dengan tidak menutup kemungkinan adanya pemanggilan nama paraban di dalam forum resmi secara tidak sengaja. Nama yang berawal dari sapaan ringan dan kecil dalam kehidupan bersama, menjadi sebuah kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Kebiasaan memanggil dengan nama paraban itu tidak berhenti ketika di Seminari Mertoyudan, tapi berlanjut ketika strudi di Filsafat dan Teologi, bahkan setelah menjadi Romo. Celakanya, karena terlalu biasa dipanggil dengan nama paraban terkadang nama resminya sendiri sering tidak dikenal/terlupan.

Penghambat pembentukan karakter

Tetapi, yang perlu kita cermati bersama adalah bagaimana kondisi kejiwaan atau mental seseorang yang diberi nama julukan (paraban). Terlebih nama yang menyangkut kelemahan yang ada pada dirinya cenderung memojokkan dan menyudutkan dia. Perasaan sakit hati, merasa tidak dihargai atau direndahkan oleh orang lain, merupakan sejumlah akumulasi akibat yang ditimbulkan dengan adanya nama paraban ini. Perendahan yang dimaksud adalah kurang atau bahkan tidak adanya sikap saling menghargai dan menghormati satu dengan yang lain. Hal ini terungkap dalam pemanggilan nama seseorang dengan tidak semestinya. Pemberian nama paraban ini tidaklah mengganti nama yang sebenarnya; tetapi sadar atau tidak, pemberian nama paraban seakan “menutup” nama yang sesungguhnya.

Pemberian nama paraban seperti itu bisa membuat mental seseorang menjadi down. Lebih tragis lagi, bisa menghambat bahkan membunuh karakter seseorang. Masalahnya, bagaimana dirinya bisa bertumbuh dan berkembang dengan baik apabila ia mengalami luka batin yang cukup mendalam di komunitasnya. Komunitas yang diharapkan menjadi tempat bernaung yang menyejukkan, menjadi komunitas penghancur. Secara tidak langsung, akibat yang ditimbulkan ini dapat berpengaruh pada terhambatnya proses pembentukan karakter seseorang.

Problem paradoksal dan rasa penghargaan

Nama paraban sebenarnya merupakan problem cukup paradoksal dalam sebuah komunitas. Di satu sisi, penggunaan nama paraban makin mendekatkan, mengakrabkan dan mendobrak eksistensi seseorang di dalam komunitas; tetapi di lain pihak penggunaan nama paraban mampu merendahkan atau bahkan menjatuhkan mental seseorang yang akan berujung pada terhambatnya proses pembentukan karakter dalam diri seseorang. Selain itu, nama paraban yang ada mampu menunjukkan citra sebuah komunitas, citra yang terbangun melalui kehidupan komunitas sehari-hari.

Penyebutan nama paraban ini sebenarnya bukanlah perkara yang amat luar biasa melainkan hal kecil dan sederhana namun mampu “menjatuhkan” seseorang secara perlahan. Kesadaran untuk meninggalkan budaya ini terbentuk ketika setiap warga komunitas memiliki kemauan untuk saling menghargai. Memanggil nama orang sebagaimana mestinya, merupakan salah satu bentuk nyata tanda penghargaan terhadap orang lain.

Mertoyudan, 27 September 2008

Benedictus Seprinanda Sudarto


Saatnya Remaja Bangkit Menulis 
Thursday, September 4, 2008, 03:40 - SISWA Posted by hadi
Pada hari Minggu, 31 Agustus 2008 yang lalu, Seminari Mertoyudan menjadi tuan rumah penyelenggaraan kursus tulis menulis. Kursus ini diikuti oleh siswa-siswi dari SMA Tarakanita Magelang, SMA Sedes Sapientiae Bedono, SMA PL. Van Lith Muntilan, dan SMA Seminari Mertoyudan (Kelas XII dan KPA). Mereka bersama berkumpul untuk mendengarkan instruksi latihan tulis menulis di ruang rekreasi Medan Utama.

Acara yang diseponsori oleh Penerbit-Percetakan Kanisius Yogyakarta tersebut bertujuan untuk mengembangkan dan menyalurkan potensi menulis dalam diri remaja, khususnya remaja katolik di Jawa tengah. Acara yang dimulai pada pukul 09.00 ini diisi dengan ceramah yang intinya mendorong semangat remaja untuk menulis. Pembicaranya ada tiga orang, yaitu: Bpk. I. Puja Raharja, Rm. A. Setyodarmono. SJ dan Bpk. Subagyo. Lewat tiga pembicara tersebut, para siswa dari Van Lith, Sedes, Tarakanita dan khususnya Seminari, sangat tertantang untuk menghasilkan tulisan yang bermanfaat bagi perkembangan remaja lainnya.

Secara keseluruhan, acara itu dapat dibagi menjadi tiga bagian. Pada bagian pertama, Bpk. Puja Raharja mengungkapkan keprihatinan pada masa sekarang , yaitu adanya penurunan minat menulis dalam kalangan ramaja. Pada bagian kedua, Rm. Setyodarmono memberikan bentuk harapan Gereja pada kawula muda khususnya dalam bidang menulis. Pada bagian ini pula Bapak. Puja bersama Rm. Setyodarmono menantang kami sebagai siswa dari sekolah katolik untuk menulis dan berani mempublikasikan tulisannya lewat media massa. Setelah itu ada break sebentar, pada bagian ketiga pihak Kanisius menyampaian tawaran kepada para siswa untuk menulis tema-tema pokok tentang remaja/kaum muda.

Acara ini sangat bagus terutama sebagai wadah untuk latihan menulis bagi para remaja. Sebagai sponsor, pihak Kanisius juga telah mengobarkan semangat menulis dalam diri remaja khususnya para peserta yang hadir pada acara hari ini. Maka dari itu, semoga dengan adanya acara ini, para remaja khususnya peserta yang hadir dapat mengoptimalkan kesempatan emas yang diberikan Kanisius ini dengan menyalurkan bakat menulisnya demi perkembangan para remaja, bangsa, negara dan Gereja Indonesia. (Bk MU’s Com)


Express Your Life`s Symphony 
Thursday, September 4, 2008, 02:14 - SISWA Posted by hadi
Pada hari Senin, 18 Agustus 2008, Seminari mengadakan acara pembukaan MAMURI di Aula Seminari Menengah Mertoyudan. MAMURI atau biasa disebut Malam Musik Seminari, merupakan acara dua tahunan yang diadakan di Seminari Menengah Mertoyudan. Setelah tahun yang lalu diadakan Malam Kreativitas untuk mengembangkan kreativitas para seminaris, pada tahun ini MAMURI diadakan sebagai sarana untuk mengembangkan para seminaris dalam bidang musik.

Dalam acara pembukaan MAMURI yang diadakan dari pukul 09.00 hingga pukul 12.30 tersebut ditampilkan sebuah Happening Art yang menggambarkan mengenai keadaan musik klasik yang semakin terpuruk dengan adanya aliran musik lain. Selain itu terdapat pula penampilan dari Canisii Seminarium Orkestra yang memainkan lagu Jesu Joy of Man’s Desiring. Setelah tampilan orkes terdapat pengantar singkat dari moderator MAMURI, Fr Simon Untara yang dilanjutkan dengan pengantar singkat dari Rektor Seminari Mertoyudan, Rm A. Gustawan. SJ. Berbeda dengan dua tahun sebelumnya, pada tahun ini Seminari mengundang Prof. Dr. Victor Ganap M.Ed yang merupakan guru besar musikologi Institut Seni Indonesia. Pada kesempatan kali ini Prof. Dr. Victor Ganap M.Ed mempresentasikan perjalanan musik gereja dari jaman Abad Pertengahan hingga musik jaman Romantik. Selain itu Prof. Dr. Victor Ganap M.Ed juga memperkenalkan lagu-lagu Gregorian dengan mengapresiasikannya lewat contoh-contoh nyanyian. Dalam presentasi tersebut para peserta tampak begitu antusias menanyakan berbagai macam hal berkenaan dengan perkembangan musik dan musik itu sendiri.

Pada acara pembukaan MAMURI 2008 yang bertemakan Express Your Life`s Symphony tersebut, hadir pula Rm. Riawinarta. Pr dan para pendamping musik Seminari Mertoyudan. Selain acara inti yang berupa ceramah dari Prof. Dr. Victor Ganap M.Ed, panitia juga menyajikan Theme Song MAMURI 2008 yang berjudul Ekspresikan Symphonymu dengan iringan band. Kemudian acara dilanjutkan dengan sosialisasi lomba yang akan diadakan selama satu semester ini. Untuk memeriahkan MAMURI 2008 ini, panitia telah menyiapkan sebanyak tujuh jenis lomba yang akan dilaksanakan selama satu semester ini. Lomba-lomba tersebut antara lain, Cipta lagu rohani, Aransemen lagu, Musik festival, Solo Koor (paduan suara), Musik Klasik, dan Musik Kreatif. Pada intinya semua lomba tersebut merupakan sarana yang disediakan oleh panitia dengan tujuan mengembangkan budaya musik di Seminari Mertoyudan ini.

Tema yang dimunculkan oleh panitia MAMURI 2008 yaitu Express Your Life`s Symphony mempunyai makna antara lain: lewat musik, orang dapat menyampaikan simfoni-simfoni kehidupan yang mengalir dan membangkitkan emosi yang ada dalam setiap kehidupan. Dengan mengekspresikannya, setiap orang ditantang untuk merefleksikan diri, talenta dan rahmat yang telah dianugerahkan sang Pencipta pada dirinya. Dalam pergulatan refleksi itulah ia akan bertemu dengan Dia yang telah menciptakan dan menebusnya. Maka dari itu MAMURI mengajak seluruh warga Seminari untuk bersama-sama bertanya mengenai simfoni-simfoni kehidupan macam apa yang selama ini telah dikembangkan di Seminari ini. Untuk mendukung pengembangan para seminaris dalam bidang musik, Seminari telah menyediakan berbagai sarana. Semua sarana itu diharapkan membawa pada kemendalaman permenungan dan membawa pembaharuan hidup.(Sciencia )






 
Kalau ada pertanyaan silahkan tulis di BUKU TAMU. Trimakasih
    Login Admin        Sarana Komuniaksi ( MERTOYUDAN )    Date : 9/September/2010 Time 15:42